Donat itu makanan yang aneh. Bentuknya sederhana, rasanya manis, tapi entah kenapa selalu punya tempat sendiri di kepala banyak orang. Di Indonesia, donat bukan cuma soal camilan. Ia sering hadir di kotak kardus di acara kantor, di meja ruang tamu saat tamu datang, atau sekadar jadi teman minum teh sore hari. Donat bukan makanan yang ribet, tapi justru karena kesederhanaannya itu, ia bertahan lama. Dari donat kampung yang digoreng manual sampai donat-donat modern dengan topping penuh warna, semuanya punya penggemar masing-masing.
Saya sendiri termasuk orang yang suka donat. Bukan tipe yang harus selalu beli atau makan banyak, tapi lebih ke suka prosesnya. Dulu saya pernah jualan donat biasa, dan dari situ saya tahu satu hal bahwa bikin donat itu ada seninya. Mulai dari adonan yang harus sabar diuleni, waktu fermentasi yang tidak bisa dipaksa, sampai momen paling seru yaitu memilih dan mengerjakan topping. Rasanya ada kepuasan sendiri melihat donat polos berubah jadi cantik dan siap dimakan.
Belakangan ini, donat buah naga cukup sering muncul dan menarik perhatian saya. Warnanya yang pink alami membuat donat ini terlihat berbeda tanpa harus banyak trik. Buah naga seolah memberi identitas baru pada donat, yang biasanya identik dengan warna cokelat atau kuning keemasan. Tapi di balik tampilannya yang cantik, muncul pertanyaan yang cukup sering ditanyakan : apakah donat buah naga benar-benar lebih sehat, atau cuma kelihatan sehat saja?
Donat pada dasarnya adalah makanan tinggi kalori. Tepung, gula, telur, margarin, lalu digoreng. Kombinasi ini memang bukan dibuat untuk diet. Satu buah donat goreng ukuran sedang umumnya mengandung sekitar 250–300 kalori, tergantung topping dan cara pengolahannya. Kalori ini sebagian besar datang dari karbohidrat sederhana dan lemak. Kalau dimakan sesekali, sebenarnya bukan masalah besar. Yang jadi masalah biasanya bukan donatnya, tapi cara kita memperlakukannya. Kadang kita memakannya berlebihan, tanpa sadar, dan tanpa menikmati.
Di sinilah donat buah naga jadi menarik untuk dibahas. Dengan menambahkan buah naga ke dalam adonan, kita memang tidak serta-merta mengubah donat menjadi makanan sehat. Donat tetaplah donat. Tapi buah naga memberi kontribusi tambahan berupa serat, vitamin, dan antioksidan. Buah naga juga mengurangi ketergantungan pada pewarna buatan, karena warnanya sudah cukup kuat secara alami. Secara kalori, donat buah naga biasanya sedikit lebih rendah dibanding donat biasa, terutama jika takaran gulanya tidak ditambah berlebihan.
Jika dihitung secara kasar, satu buah donat buah naga ukuran sedang bisa berada di kisaran 220–260 kalori. Selisihnya memang tidak drastis, tapi cukup untuk memberi ruang bernapas, terutama bagi orang-orang yang tetap ingin ngemil tanpa terlalu merasa bersalah. Untuk saya pribadi, ini bukan soal angka kalori semata. Tapi ini soal kesadaran. Kita tahu apa yang kita makan, tahu prosesnya, tahu bahannya, dan tahu kapan harus berhenti.
Kalau bicara soal kesehatan, saya sebenarnya tidak pernah terlalu kaku. Saya tipe orang yang kalau lagi pengin, ya makan. Saya tidak menghitung kalori setiap suapan. Tapi saya selalu memikirkan tentang hal lain seperti ini aman atau tidak, ini bersih atau tidak, ini bahan-bahannya jelas tidak. Hal-hal kecil seperti es batu dari air yang dimasak atau belum dimasak itu justru lebih sering saya pikirkan daripada angka di label gizi. Buat saya, makanan yang baik itu bukan cuma soal rendah kalori, tapi juga soal rasa yang sesuai ekspektasi dan bahan yang tidak membuat tubuh saya protes belakangan.
Donat buah naga, dalam konteks ini, menurut saya adalah camilan yang sedikit lebih baik. Bukan makanan kesehatan, tapi juga bukan sekadar gula dan tepung kosong. Ia masih camilan, masih harus dinikmati dengan sadar, tapi setidaknya ada usaha untuk memperbaiki komposisinya. Dan yang paling penting, ia dibuat dengan tangan kita sendiri. Kita tahu apa yang masuk ke dalamnya, berapa banyak gula yang dipakai, dan bagaimana prosesnya.
Berikut ini adalah resep donat buah naga yang pernah saya buat sendiri dan saya bagikan juga dalam bentuk video. Resep ini cocok untuk kamu yang ingin mencoba donat dengan tampilan berbeda, tapi tetap realistis untuk dibuat di rumah.
Bahan-bahan Donat :
250 gr tepung terigu protein tinggi
40 gr gula pasir
15 gr susu bubuk
70 gr buah naga
1 butir telur utuh
1 butir kuning telur
30 gr air es
4 gr ragi instan
1 gr baking powder
2 gr garam
40 gr margarin
Bahan-bahan Topping :
Glaze coklat
Coklat batang strawberry
Minyak goreng
Keju parut
Kismis kuning
Biskuit
Trimit sprinkle
Meses coklat
Choco chips
Cara Membuat Donat Buah Naga :
1. Campurkan semua bahan kering, lalu masukkan buah naga yang sudah dihaluskan bersama telur dan air es. Uleni hingga adonan menyatu dan mulai terasa elastis.
2. Tambahkan margarin dan garam, lalu lanjutkan menguleni sampai adonan benar-benar kalis dan lentur.
3. Diamkan adonan hingga mengembang dua kali lipat, kemudian kempiskan dan bentuk sesuai ukuran donat yang diinginkan.
4. Setelah melalui proses proofing kedua, goreng donat dalam minyak panas dengan api sedang hingga berwarna keemasan.
5. Dinginkan sebentar, lalu hias dengan topping sesuai selera.
Proses membuat donat selalu mengajarkanku satu hal bahwa tidak semua hal bisa dipercepat. Ada tahap menunggu, ada tahap sabar, dan ada tahap menikmati hasil. Sama seperti cara kita memperlakukan makanan. Donat buah naga ini bukan solusi hidup sehat, tapi bisa jadi pilihan yang lebih bijak kalau kita memang ingin ngemil.
Kalau kamu penasaran melihat proses lengkapnya, termasuk tekstur adonan dan cara topping-nya, kamu bisa menonton versi videonya di YouTube melalui link di sini.
Semoga artikel ini bukan cuma jadi resep, tapi juga jadi teman ngobrol. Tentang makanan, tentang pilihan kecil, dan tentang bagaimana kita menikmati hidup tanpa harus merasa bersalah berlebihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar